Pemerintah Provinsi Lampung resmi memulai pembangunan Program Hilirisasi Ayam Terintegrasi sebagai upaya memperkuat sektor peternakan dan mendukung ketahanan pangan nasional. Program ini dirancang untuk membangun ekosistem peternakan ayam secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.
Langkah strategis tersebut ditandai dengan kegiatan groundbreaking yang menjadi awal pembangunan infrastruktur pendukung industri perunggasan terintegrasi di Lampung. Pemerintah daerah menilai sektor ini memiliki peran penting dalam meningkatkan daya saing ekonomi daerah.
Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Marindo, menyampaikan bahwa program hilirisasi ayam merupakan mandat langsung dari pemerintah pusat. Menurut dia, kebijakan tersebut sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang menempatkan pemenuhan protein hewani sebagai prioritas nasional.
“Program ini menjadi wujud dukungan terhadap Asta Cita Presiden, khususnya dalam penguatan pembangunan sumber daya manusia melalui penyediaan protein hewani yang berkualitas, aman, dan terjangkau,” tegas Marindo saat memberikan sambutan.
Marindo menjelaskan, hilirisasi ayam tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik semata. Program ini juga dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
Empat Proyek Terintegrasi
Dalam implementasinya, Pemerintah Provinsi Lampung menyiapkan empat proyek utama yang saling terhubung dalam satu rantai industri. Proyek tersebut mencakup pembangunan Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) dengan kapasitas 2.000 ekor per jam yang dilengkapi fasilitas cold storage.
Selain itu, pemerintah juga membangun parent stock dan hatchery ayam layer, memperluas pabrik pakan, serta melanjutkan pembangunan pabrik tepung telur tahap kedua. Seluruh proyek tersebut dirancang untuk memperkuat struktur industri perunggasan di daerah.
Melalui pengembangan infrastruktur ini, Marindo optimistis perekonomian Lampung akan semakin stabil. Program tersebut juga diharapkan mampu menjaga keseimbangan harga ayam, baik di tingkat peternak maupun konsumen.
“Pemerintah Provinsi Lampung juga mendorong agar distribusi ayam tidak hanya dalam bentuk segar, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah agar manfaat ekonominya semakin besar,” imbuhnya.
Meski fokus pada penguatan sektor hilir, pemerintah daerah tetap memberi perhatian pada sektor hulu. Pemprov Lampung terus mendorong peningkatan produksi jagung sebagai bahan baku utama pakan ternak.
Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat ekonomi perdesaan berbasis pertanian dan peternakan sekaligus memastikan ketersediaan bahan baku industri perunggasan secara berkelanjutan.
Sebagai penutup, Marindo mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berperan aktif dan berkolaborasi secara terbuka dalam mendukung program strategis tersebut.
“Sehingga Program Hilirisasi Ayam Terintegrasi dapat berjalan secara transparan, akuntabel, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Lampung, sekaligus berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional,” pungkasnya.






