Kapal pengangkut Gas Alam Cair (Liquefied Natural Gas / LNG) adalah salah satu kapal paling canggih di dunia. Kapal ini berfungsi mengangkut gas alam yang didinginkan hingga suhu kriogenik, yaitu sekitar 162 derajat celcius. Dalam pelayaran, tantangan utamanya adalah mengelola Boil-Off Gas (BOG), gas yang terbentuk akibat penguapan alami kargo LNG.
Meskipun tangki kargo dilapisi insulasi tebal, panas dari lingkungan luar (heat leak) tetap merembes, menyebabkan LNG di dalamnya menguap. Tingkat penguapan (Boil-Off Rate) pada kapal modern biasanya dijaga sangat rendah, seringkali di bawah 0,15% volume kargo per hari.
Pengelolaan BOG bukan hanya masalah teknis, tetapi juga masalah keamanan, lingkungan, dan ekonomi.
Jika BOG tidak dihilangkan, tekanan di dalam tangki kargo akan terus meningkat, menciptakan risiko kerusakan struktur tangki atau pelepasan gas (venting) yang berbahaya dan tidak terkontrol ke atmosfer.
Strategi Inti Pengelolaan BOG
Sistem BOG pada kapal LNG dirancang untuk menjaga tekanan tangki tetap stabil dan berada di dalam batas aman, sekaligus memanfaatkan gas yang terbentuk. Ada dua strategi utama yang digunakan, seringkali dalam kombinasi:
1. Pemanfaatan BOG sebagai Bahan Bakar (Use as Fuel)
Ini adalah strategi yang paling umum dan ekonomis pada kapal LNG modern. BOG yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai sumber energi utama untuk propulsi kapal.
BOG dari tangki kargo pertama-tama disalurkan ke Kompresor BOG untuk meningkatkan tekanannya. Gas kemudian dilewatkan melalui Low Duty Heater agar suhunya mencapai titik yang aman dan optimal untuk pembakaran di mesin.
Kapal masa kini menggunakan mesin seperti ME-GI (Man Diesel & Turbo) atau X-DF (Wärtsilä) yang beroperasi dengan konsep dual-fuel.
Mesin ini secara otomatis dapat menggunakan BOG sebagai bahan bakar utama dan hanya beralih ke Bahan Bakar Minyak Laut (MFO/MGO) jika BOG tidak mencukupi.
Dengan membakar BOG, kapal dapat menghemat biaya bahan bakar minyak konvensional, mengurangi emisi sulfur secara signifikan, dan memanfaatkan kargo yang seharusnya terbuang.
2. Pencairan Kembali BOG (BOG Reliquefaction)
Untuk kapal-kapal yang mengutamakan pengiriman kargo 100% utuh, atau saat kapal berada dalam kondisi di mana kebutuhan bahan bakar sangat rendah (misalnya saat berlabuh atau kecepatan sangat lambat), sistem pencairan kembali menjadi pilihan.
BOG dari tangki kargo diambil, dikompresi, dan kemudian didinginkan secara drastis dalam unit Reliquefaction Plant. Unit ini menggunakan siklus pendinginan kriogenik (seringkali berbasis nitrogen) untuk mengubah gas kembali menjadi LNG cair.
LNG cair yang dihasilkan kemudian dipompakan kembali ke dalam tangki kargo utama. Sistem ini secara efektif menghilangkan kerugian kargo, karena gas yang terbentuk dikembalikan ke bentuk cairnya.
Komponen Pendukung dan Keamanan
Selain sistem pemanfaatan dan pencairan kembali, ada beberapa komponen kunci lainnya:
- Gas Burning Unit (GDU) / Pembakar Uap: Ini adalah sistem keamanan terakhir. Jika tekanan BOG meningkat terlalu cepat dan mesin kapal atau unit pencairan kembali tidak dapat mengatasinya, GDU akan membakar BOG secara terkontrol. Ini mencegah pelepasan metana mentah ke atmosfer, sekaligus meredam tekanan.
- Sistem Pengaturan Tekanan Otomatis: Sistem canggih yang terus memantau tekanan di setiap tangki kargo dan secara otomatis menyesuaikan laju penarikan BOG ke kompresor.
Pengelolaan BOG adalah inti dari efisiensi operasional kapal LNG. Dengan integrasi mesin dual-fuel dan sistem pencairan kembali, industri pelayaran LNG telah berhasil mengubah gas yang dulunya dianggap sebagai masalah dan limbah, menjadi sumber energi yang bersih dan bernilai.
Sistem ini menjamin bahwa perjalanan LNG berlangsung dengan aman, ramah lingkungan, dan ekonomis.
Sebagai bagian dari ekosistem LNG nasional, pemahaman dan penerapan teknologi pengelolaan Boil-Off Gas seperti ini juga sejalan dengan komitmen PGN LNG Indonesia dalam menghadirkan solusi energi gas yang andal, aman, dan berkelanjutan.
Sebagai anak usaha PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), PGN LNG Indonesia berperan aktif dalam pengembangan rantai bisnis LNG, mulai dari penyediaan, penyimpanan, hingga distribusi LNG untuk memenuhi kebutuhan energi industri dan kelistrikan di Indonesia.
Dengan penguasaan infrastruktur dan teknologi LNG yang modern, PGN LNG Indonesia terus mendorong efisiensi operasional, pengurangan emisi, serta pemanfaatan gas bumi sebagai energi transisi menuju masa depan energi yang lebih bersih.









